Montag, 11. Januar 2016
Stronger than yesterday
Langsung saja, ya....
Dalam waktu 8 bulan ini banyak sekali yang terjadi di hidupku. Dari mulai sedih, senang, kecewa, marah, terkejut, patah hati, dan rasa rindu. Kadang ketika aku sedang berbaring di tempat tidur dan menunggu untuk terlelap, semua momen-momen itu muncul di kepalaku. Begitu saja. Tanpa alasan. Banyak hal yang telah kucapai. Bukan, bukan prestasi akademik yang kucapai sayangnya, melainkan hal-hal yang membuat aku menjadi lebih kuat.
Bulan Agustus-Semptember 2015 aku untuk pertama kalinya pulang ke Indonesia setelah hampir 3 tahun aku tinggal di Jerman untuk mengejar mimpiku. Banyak sekali hal yang berubah disana. Beberapa hal hampir tidak kukenali lagi. Dari mulai tiket kendaraan umum dan harga makanan yang melonjak dua kali lipat sampai letak mebel di rumahku yang sangat berbeda dari sebelum aku pergi ke Jerman. Banyak sekali perubahan. Ya, keadaan di Indonesia berubah. Begitu pun manusia-manusianya. Ketika aku disana, banyak hal-hal yang terjadi yang merupakan bekal untukku untuk menjadi lebih kuat ketika kembali ke medan perang di Jerman. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan rasa kecewa yang tak terlukiskan ketika aku berlibur ke tanah air. Saking kecewanya, aku tidak punya hasrat untuk apapun. Hatiku gelisah dan gundah gulana. Air mata terus mengalir dari pelupuk mata. Rasa kecewa seperti itu belum pernah kualami sebelumnya. Rasa kecewa seperti itu kukira hanya ada di film-film. Ternyata kekecewaan sebesar itu bisa dialami seorang manusia. Manusia yang rapuh dan kadang terlalu bodoh karena menggantungkan kepercayaan dan hidupnya kepada manusia lain, di saat ia tahu bahwa ada Pribadi lain yang bisa membentuk serpihan-serpihan hati yang hancur menjadi utuh kembali.
Saat itu aku sampai bilang terhadap diriku sendiri, bahwa kalau masalah itu tidak selesai, aku tidak akan mau kembali lagi ke Jerman. Ya, manusia bisa sangat kecewa dan sedih sampai-sampai ia kehilangan akal sehatnya dan kehilangan harapan hidup. Aku bersyukur, karena saat itu Pribadi yang luar biasa itu datang kepadaku lewat Alkitab yang keluarga kami selalu baca setiap pagi. Ya, firmanNya saat itu adalah untuk mengampuni. Mengampuni orang yang menyakiti kita, karena Pribadi itu telah mengampuni kita terlebih dahulu. Kini aku telah mengampuni dia. Walau berat, aku telah berhasil. Hal ini bukan perkara mudah. Aku rasa tiada manusia satu pun di dunia ini yang sanggup mengampuni orang yang menyakitinya dengan kekuatannya sendiri.
Masalah tidak berhenti hanya sampai disitu.
Ketika aku sudah kembali lagi ke Jerman, kehidupan disini rasanya semakin keras. Studiku semakin sulit. Bukan hanya masalah bahasa, tetapi materi pelajarannya semakin sulit. Itu diakui oleh teman-teman seangkatanku jua. Usahaku harus semakin keras lagi. Tidak hanya soal pelajaran, mengenai pergaulan pun rasanya semuanya semakin sulit. Aku tidak punya teman yang benar-benar teman di lingkungan universitasku, dimana aku bisa berbagi suka dan duka bersamanya. Oleh karena itu aku selalu mengganggu sahabatku Christyne (maafkan aku, tetapi aku hanya bisa melakukan hal itu padamu). Aku selalu meneleponnya ketika aku ingin cerita. Ketika aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi teman-teman di Universitas, aku selalu mencari Christyne.
Keadaan tidak berubah. Selalu seperti itu. Keras. Suatu hari Tuhan membiarkan Christyne pergi dariku. Aku tidak mendengar kabar darinya beberapa hari. Aku sangat sedih waktu itu. Sepertinya semua yang berharga buatku meninggalkan aku. Saat itu aku memberontak kepada Tuhan. Aku merasa semuanya tidak adil. Di saat aku benar-benar butuh pertolongan dan seseorang yang menenangkan aku, bahkan sahabatku pun tidak ada untukku. Aku merasa bodoh dan tidak berarti saat itu. Saat itu merupakan titik terendah di hidupku.
Namun ada sesuatu yang berubah pada akhirnya. Bukan, bukan keadaannya yang berubah. Aku yang berubah. Aku telah melewati salah satu proses pendewasaan dalam hidup. Aku menjadi lebih kuat, dan menjadi sadar bahwa aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada manusia. Manusia, bahkan sahabat terdekatmu atau orang tuamu sekalipun akan mengecewakanmu. Memang begitu. Tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan. Saat itu, saat aku sedang sangat terpuruk, satu-satunya Pribadi yang ada untukku hanya Tuhan Yesus. Cuma Dia. Ya, cuma Dia. tiada yang lain. Ketika semua orang meninggalkanku, Dia tidak. Dia membuatku merasa berarti. Dia membuatku sadar bahwa hanya kepadaNya hidupku boleh dan bisa bergantung.
Sekarang aku mampu tersenyum lagi. Aku berani sendirian ketika aku memang harus sendirian dan tidak ditemani orang lain. Aku mulai bisa menghargai diriku sendiri. Aku sadar bahwa aku lahir di dunia punya tanggung jawab dan punya arti. Tiada manusia yang tidak berarti. Perlahan-lahan serpihan hatiku yang hancur menjadi pulih lagi. Dan sekarang, ketika aku lelah akan keadaan, aku tidak langsung mencari orang lain. Aku mengeluh kepada Tuhan terlebih dahulu ketika aku lelah. Ketika manusia memperlakukanku secara tidak adil, aku tidak lagi mencari orang lain untuk mengeluhkan keadaan kepadanya. Sekarang aku mencari Dia terlebih dahulu untuk mengeluhkan ketidakadilan manusia padaku.
Ternyata memang lebih baik begitu. Aku menjadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi gejolak hidup di hari-hari mendatang.
"Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok punya kesusahannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk sehari." - Matius 6:34
Tuhan memberkati :)
Freitag, 1. Mai 2015
Menyerah atau terus berjuang?
Setiap orang punya pilihan untuk memecahkan masalahnya.
Setiap orang punya pilihan untuk tetap berjuang, atau menyerah.
Teman-teman, pernahkah terbersit dalam pikiranmu untuk menyerah ketika ombak masalah menerpamu?
Pernahkah kamu memiliki rasa takut dan khawatir yang begitu besar sampai-sampai hanya air mata dan tangis yang mampu kamu keluarkan?
Pernahkah kamu merasakan tubuhmu begitu berat untuk melangkah ketika bangun di pagi hari karena pikiranmu tertumpu pada masalah yang harus kamu hadapi?
Pernahkah kamu tergoda untuk terburu-buru mengambil keputusan ketika kamu sedang emosi atau sedang bahagia?
Aku berani bertaruh, dari setiap pertanyaan di atas hampir semua dari kalian akan menjawab 'ya'.
Di postinganku kali ini aku nggak ingin berusaha untuk menghibur kalian atau apapun. Aku hanya mau memposting kenyataan yang sedang kuhadapi.
Sejak mulai semester dua di Universitas, aku sangat kewalahan. Masalah bertubi-tubi datang menerpaku.
Minggu lalu kakekku yang dari mama meninggal. Ketika aku mengetahui hal itu, aku tidak langsung menangis. Awalnya pikiranku mulai kacau. Aku terus terang tidak begitu sedih karena opung (kakek) telah tiada, tetapi pikiranku ada pada mama..
Saat itu yang ada di pikiranku adalah... "Tuhan, apa yang akan terjadi pada mama? Bagaimana bila mama tahu bahwa opung telah tiada?"
Ya. Saat itu mama dan papa sedang berlibur ke Israel, dan di sana tidak ada sinyal kecuali pakai sinyal Wi-Fi. Kakakku sudah berusaha menghubungi mama, tetapi tidak ada respon.
Lalu aku tak tahan lagi.
Aku menangis.
Ya, tentu saja kamu boleh bilang aku cengeng. Memang aku cengeng.
Aku menangis, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jantungku berdebar sangat kencang, tetapi tubuhku rasanya lemas sekali. Saat itu hari Senin, aku sedang siap-siap berangkat ke kampus, dan rasanya berat sekali.
Yang lebih berat lagi adalah ketika aku harus tetap tersenyum dan tidak menunjukkan kesedihanku pada siapa-siapa. Selama aku di kampus, pikiranku melayang-layang.
Jam 17.00 pun tiba. Aku baru saja keluar dari kampus. Saat itu rasa sedihku tak bisa kubendung lagi, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah ruangan musik di kampus dan menemukan piano di sana.
Lalu aku langsung saja memainkan piano tersebut, menyalurkan perasaanku yang tidak tersampaikan lewat kata-kata.
Tangisku meledak.
Saat itu aku hanya memohon pada Tuhan agar Dia memberi mamaku kekuatan.
Ya. Setiap orang pernah merasakan bagaimana hancurnya hati ketika rasa duka melanda.
Namun kepada siapakah seharusnya kita memberikan serpihan hati kita?
Kalau aku, aku memilih untuk memberikannya kepada Tuhan. Karena aku percaya, percaya sekali bahwa Ia sanggup membentuk kembali serpihan-serpihan hatiku yang hancur.
Alasannya?
Karena hanya Dia yang mampu. Saat itu hanya Dia yang mendengar tangisku, hanya Dia yang tahu betapa sakitnya hatiku.
Ah. postinganku ini terlalu dramatis dan mengada-ada, bukan?
Tapi, belum selesai disitu.
Aku dilanda masalah lain lagi. Aku mengalami kesulitan yang sangat di kampus. Praktikum yang harus kujalani kini semakin sulit. Aku sangat kesulitan mengikuti tahap-tahapnya.
Banyak orang yang berhenti studi di jurusanku karena tidak sanggup menjalani praktikum ini.
Melihat semuanya ini membuatku merinding.
Bahkan salah seorang teman baikku yang notabene mahasiswi terbaik di jurusanku telah berhenti dari studi ini.
Lalu semakin besarlah rasa takut dan gelisahku. Aku pun sempat berpikir untuk berhenti studi.
Aku sendiri tidak kuat menghadapi praktikum ini.
Logikaku berkata, "yang pintar saja sudah menyerah, kenapa kamu tidak menyerah juga? Kamu kan tidak ada apa-apanya dibanding mereka."
Tetapi hatiku berkata, "Tuhan lebih besar dari masalahmu, lebih besar dari logikamu yang lemah itu. Kalau kamu sendiri paham bahwa kamu tidak pintar, masakan kamu lebih percaya logikamu yang tidak pintar itu dibandingkan kepada Tuhan yang melampaui itu semua?"
Kata orang, badai pasti berlalu.
Ya. Badai pasti berlalu. Perlahan-lahan keadaanku semakin membaik. Tuhan benar-benar telah menyusun serpihan hatiku yang hancur kembali.
Aku menjadi semakin kuat. Dari masalah-masalah yang kuhadapi ini, Dia sengaja membiarkan aku melewatinya sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarku, agar aku tahu, bahwa hanya kepadaNya aku dapat bersandar, hanya Dia yang mengerti aku 100%, hanya Dia yang mengenalku sampai ke lubuk hatiku yang paling dalam.
Masalah boleh datang, akan datang, dan pasti datang.
Pertanyaannya, akankah kamu tetap berjuang atau menyerah?
Sebelum kamu menyerah, maukah kamu mencoba dahulu memberikan hatimu yang terluka kepada Tuhan dan liat perubahan yang akan kamu alami?
Tuhan memberkati :')
Freitag, 3. Oktober 2014
Neues Leben. New life. Kehidupan yang baru.
Ketika perasaan itu membuatmu berpikir...
"Ah. Seandainya."
Aku mengalaminya. Perasaan takut, gelisah, kadang juga sedih.
Ternyata... memulai hidup baru itu tidak semudah yang dibayangkan. Dan tentunya, tidak seenak yang dibayangkan juga. Banyak hal yang terjadi di dalam waktu hampir 2 bulan ini. Pertemuan, kesenangan, kesedihan, dan akhirnya... perpisahan.
Jangan tanya padaku mengapa Tuhan izinkan ada perpisahan di dunia ini, karena aku pun membenci perpisahan. Di dalam sebuah perpisahan, terkadang tersimpan penyesalan. Ya. Penyesalan. Penyesalan, mengapa aku tidak menggunakan waktuku lebih banyak bersamanya?
Kata orang... di akhir sebuah perpisahan, seseorang akan dihadiahi sebuah "halo" yang baru. Tapi.... sebuah "halo" yang baru ini pasti tidak akan sama dengan "halo" yang lama, yang kuterima dari orang yang dulu kukenal. Simpel saja, karena setiap orang itu berbeda.
Yang terpenting dari sebuah perpisahan adalah... Dalam semua perpisahan, orang-orang menjadi sadar betapa berharganya waktu. Betapa berharganya kehadiran seseorang di hidup kita. Ketika kita bersama mereka, kita ingin sekali, supaya waktu berjalan cepat. Kita lelah, ingin menyendiri, pokoknya ingin menghabiskan waktu sendiri.
Tapi ketika orang itu pergi....
ada perasaan yang bergejolak di hati. Perasaan kehilangan. Perasaan takut tidak akan berjumpa lagi.
Aku yakin semua orang pernah, dan mungkin akan terus selalu mengalaminya.
Kalau kata ayahku...
Penyesalan selalu datang di akhir.
Ya. itu benar. Jadi.... sebelum menyesal, hendaknya kita mempergunakan waktu dengan baik.
Memang Tuhan tidak pernah menjanjikan matahari bersinar 24 jam. Selalu ada gelap malam. Tapi ya itu.
Semua itu ada waktunya. Ada fajar di pagi hari, ada gelap di malam hari.
Ada waktu berkenalan, ada waktu berpisah......
Seseorang akan menghargai dan memahami apa itu bahagia ketika dia dapat memahami dan menemukan kebahagiaan di saat dia sendiri....
Biarlah sedikit coretanku hari ini menjadi hadiah kecil untuk kalian yang sedang berduka karena perpisahan.
Tetaplah tersenyum. Hidup ini terus berlanjut.
God bless you.
Mittwoch, 20. August 2014
Being remembered
Seringkali aku gak menyadari itu. Betapa seringnya aku mengeluh dan menangis karena tidak mendapat yang kuinginkan. Seperti anak kecil. Manja. Keras kepala. Seringkali tak bersyukur terhadap yang kumiliki, sementara banyak orang diluar sana yang berkekurangan.
Hari ini aku belajar untuk menerima penolakan, menerima ketidakramahan seseorang. Tapi, Tuhan itu Maha Adil. Ketika manusia merasakan sakit, Dia berikan obat untuk sakit itu. Dia tidak biarkan kita terluka lama-lama. Seorang teman telah mengorganisir perayaan ulang tahun kecil-kecilan untukku hari ini, walaupun aku berulang tahun besok, karena besok kami tidak bertemu. Sebuah lilin, satu loyang kue ulang tahun, sebuah lagu ulang tahun, sebuah kado, dan harapan dan doa mereka untukku di hari yang spesial.
Betapa spesial hari ini, dalam waktu 41 menit aku akan berusia 20. Sebagian orang berpikir, bertambah umur berarti semakin dekat dengan kematian. Sedangkan yang lain berpikir, bertambah usia berarti hidup panjang. Menurutku semua benar. Hidup panjang = dekat dengan kematian. Dekat dengan kematian = dekat dengan hari pertemuanku dengan Tuhan di surga dan orang-orang yang kukasihi.
Tetapi rasa takut dan sedih merasuki diriku, menghancurkan hampir seluruh momen-momen berharga di hari ini. Seorang teman tiba-tiba harus pulang di tengah-tengah acara ulang tahun. Membuatku menitikkan air mata kecewa. Kecewa. Kepedihan. Luka hati. Semua bercampur aduk menjadi satu. Ternyata sekuat-kuatnya aku menahan, pada akhirnya aku menangis jua. Menangis di tengah hari yang seharusnya aku berbahagia.
Anggap saja itu tangisan kebahagiaan, walaupun bukan.
Aku bisa mengerti.
Walaupun itu sulit untuk dimengerti.
Terkadang kita manusia merasa sangat sakit dan kecewa meskipun kita tahu si pelaku tidak sengaja atau terpaksa harus melakukan hal itu.
Kadang kita menyimpan luka hati pada hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
Inilah saatnya aku beranjak dewasa.
Bukan anak kecil yang minum susu lagi, tapi orang dewasa yang makan nasi.
Menerima semuanya dengan lapang dada dan mengoreksi diri.
Itu bukan hal yang tidak mungkin.
Setiap orang akan mengalaminya.
Mengalami dimana dia dipaksa oleh hidup ini untuk menjadi dewasa.
Biarlah dirimu dibentuk seperti bejana. Sakit saat dibentuk, tapi akan menghasilkan karya yang indah pada akhirnya.
Freitag, 8. August 2014
Die Zeit. Time. Waktu.
"Ya... Apalagi kalau kita sudah berumur."
"Maksudnya? Memang kenapa kalau kita sudah berumur?"
"Ketika kita sudah berumur... maka kita akan bergerak lebih lambat, tidak seperti anak muda yang masih enerjik dan bisa melakukan ini dan itu dengan cepat. Contohnya aku...... aku sudah tua dan gerakku lambat. Di saat seperti inilah aku menyadari bahwa bagiku waktu berjalan sangat cepat. Tentunya lebih cepat dari pada kamu... Aku membutuhkan banyak waktu untuk hal-hal yang sangat mudah dan cepat kamu lakukan. Aku sudah tua..."
Inilah kutipan dari percakapanku dengan Oma Ursula, ketika kami pulang dari bioskop hari ini. Dari percakapan ini aku belajar bahwa.... Waktu itu sangat berharga, guys. Dan apa yang Oma Ursula bilang itu memang kenyataan. Aku gak kebayang... ketika aku beranjak semakin tua... Dan gerakku melambat... Penglihatanku mulai berkurang.... Aku mudah lelah dan harus banyak istirahat... Aku tidak bisa lagi melakukan apa hal-hal yang bisa dilakukan manusia seusiaku lagi.... Betapa berharganya waktu. Betapa Setiap kaum lansia berandai-andai, kalau saja mereka dapat memutar waktu.... Betapa berharga setiap detik yang kita miliki.
Dalam waktu 1 detik, kita bisa mengecup pipi orang lain... Dalam waktu 1,5 detik kita bisa mengucapkan "Aku mencintaimu"... Dalam waktu 1 detik juga kita dapat menusuk orang lain dengan pisau. Dalam waktu 1 1,5 detik kita bisa mengucapkan, "Aku benci kamu". Betapa ajaib dan berharganya waktu itu...
Betapa setiap insan terkadang tidak menyadari bahwa tiada yang mampu memutar waktu, bahkan orang-orang yang tergolong suci, yang kita elu-elukan, mereka tidak dapat memutar waktu.
Ya Tuhan.
Kalau begitu... akankah waktuku sia-sia untuk menanti sang kekasih yang akan Engkau kirimkan kepadaku?
Akankah waktu 86.400 detik setiap harinya tidak akan terbuang sia-sia untuk menantinya?
Pada detik keberapakah aku akan bertemu dengannya?
Akankah aku bertemu dengannya?
Bila ya......
Aku ingin sekali bilang padanya, "Aku punya 86.400 detik setiap hari.... Dan di setiap detiknya, aku selalu panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar aku suatu saat nanti bisa bertemu denganmu..... "
Aku percaya, tiada yang sia-sia, ketika kita melakukan sesuatu dengan setulus hati. Dengan kasih.
Kasih itu.... sabar... kasih itu murah hati.. ia tidak cemburu... tidak memegahkan diri dan tidak sombong.... Ia tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Tidak ada kata terlambat selagi kita masih hidup....
Hadiah terindah yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah waktu kita, karena waktu tidak bisa dibeli dengan apapun....
Aku mau belajar untuk memberikan waktuku lebih kepada orang lain. Mendengarkan cerita mereka...
Aku tau itu sulit, tapi itu mungkin.
Good night, guys. Have a nice dream.
God bless you! :)
Dienstag, 29. Juli 2014
So, tadi pagi aku lagi Facebook-an dan tiba-tiba menemukan posting video dari salah seorang teman. Ini linknya : http://youtu.be/RvCT9PP0398 . Jadi video itu emang lucu sih, dia ngebahas tentang The Worst Selfies Ever. Awal2nya aku ketawa ngakak guys karna liat video itu. Tapi kok lama kelamaan aku ngerasa ada yang janggal sama apa yang aku tertawakan. Terutama setelah aku ngeliat video-video lain dari user ini.
Ternyata user ini bikin video-video emang khusus untuk ngomentarin orang lain tentang kekurangan mereka.
Ok guys, let us be honest. Sebenarnya aku seneng ngeliat video-video gitu, ngomentarin orang-orang yang aneh dan sok keren. Tapi aku sendiri ngerasa bersalah abis nonton video2 user ini. Joke-nya sangat menyakitkan hati dan sarkasme banget. Mungkin buat kebanyakan orang ini hal yang lucu dan oknum2 yang diejekin di video ini dianggap pantas menerima ejekan seperti itu. Tapi menurutku nggak guys. Gak ada orang yang pantas menerima ejekan2 seperti itu. Gak ada orang yang suka diejek. Aku gak mau munafik, guys. Aku juga sering ngejekin orang. Tapi ketika aku diejek, di hati yang paling dalem aku ga bisa bohong bahwa aku terluka guys.
Jadi dari video-video ini aku belajar banyak guys. Belajar untuk gak menghina orang, se menyebalkan apapun mereka. Itu hak mereka untuk hidup, gimana mereka ngejalaninnya, kita ga punya hak untuk mengejek itu.
Sorry kalo ada kata-kata gak berkenan.
Aku cuma lagi pengen menyatakan pendapat.
Good night, buddies.
Ciaowie! :3
Donnerstag, 24. Juli 2014
Rindu
I don't know what's in my heart. This kind of feeling...
It's aching
It's so deep
It brings me to tears
Knowing that I'm probably not going to see them again
Everytime I open my eyes when I wake up
Looking at the window
Seeing how the trees dance
How amazing the sun shines
How beautiful the birds sing
And everything goes wrong all of the sudden
When I remember about you
How you come so deeply into my heart
How I cherish our time together in the past
Hearing the raindrops out there
Realizing our times are not going back
Looking around my room
Remembering how you did laugh
How you did teach me
How you did motivate me
How you did smile at me
How you did grab my hands and even hold me
Those moments
Even money can't buy
Even words can't describe
Even the sky is cloudy not knowing how to react
Even songs are out of words
How I miss you so much
Knowing that those times are not coming back
Is worse than anything I've ever imagined
Knowing that somebody else is seeing your smile
While I am not
Hurts so bad I couldn't explain
I have let you go
I have accepted the reality that we can't always be together
Now fly away
Thank you for brigthening my way to the future
Thank you for being someone I can love when I didn't have one
Thank you for struggling together
Thank you for being my motivator
Thank you for being my teacher.
Dear night, please tell them I love them
Even when they don't see.....
Good night everyone :')
Stronger than yesterday
Hallo semuanya :) Udah lama ya aku gak nulis di blog ini... Udah 8 bulan. Hehe... Bagaimana kabar kalian semua? Aku harap baik-baik saja ya.
Langsung saja, ya....
Dalam waktu 8 bulan ini banyak sekali yang terjadi di hidupku. Dari mulai sedih, senang, kecewa, marah, terkejut, patah hati, dan rasa rindu. Kadang ketika aku sedang berbaring di tempat tidur dan menunggu untuk terlelap, semua momen-momen itu muncul di kepalaku. Begitu saja. Tanpa alasan. Banyak hal yang telah kucapai. Bukan, bukan prestasi akademik yang kucapai sayangnya, melainkan hal-hal yang membuat aku menjadi lebih kuat.
Bulan Agustus-Semptember 2015 aku untuk pertama kalinya pulang ke Indonesia setelah hampir 3 tahun aku tinggal di Jerman untuk mengejar mimpiku. Banyak sekali hal yang berubah disana. Beberapa hal hampir tidak kukenali lagi. Dari mulai tiket kendaraan umum dan harga makanan yang melonjak dua kali lipat sampai letak mebel di rumahku yang sangat berbeda dari sebelum aku pergi ke Jerman. Banyak sekali perubahan. Ya, keadaan di Indonesia berubah. Begitu pun manusia-manusianya. Ketika aku disana, banyak hal-hal yang terjadi yang merupakan bekal untukku untuk menjadi lebih kuat ketika kembali ke medan perang di Jerman. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan rasa kecewa yang tak terlukiskan ketika aku berlibur ke tanah air. Saking kecewanya, aku tidak punya hasrat untuk apapun. Hatiku gelisah dan gundah gulana. Air mata terus mengalir dari pelupuk mata. Rasa kecewa seperti itu belum pernah kualami sebelumnya. Rasa kecewa seperti itu kukira hanya ada di film-film. Ternyata kekecewaan sebesar itu bisa dialami seorang manusia. Manusia yang rapuh dan kadang terlalu bodoh karena menggantungkan kepercayaan dan hidupnya kepada manusia lain, di saat ia tahu bahwa ada Pribadi lain yang bisa membentuk serpihan-serpihan hati yang hancur menjadi utuh kembali.
Saat itu aku sampai bilang terhadap diriku sendiri, bahwa kalau masalah itu tidak selesai, aku tidak akan mau kembali lagi ke Jerman. Ya, manusia bisa sangat kecewa dan sedih sampai-sampai ia kehilangan akal sehatnya dan kehilangan harapan hidup. Aku bersyukur, karena saat itu Pribadi yang luar biasa itu datang kepadaku lewat Alkitab yang keluarga kami selalu baca setiap pagi. Ya, firmanNya saat itu adalah untuk mengampuni. Mengampuni orang yang menyakiti kita, karena Pribadi itu telah mengampuni kita terlebih dahulu. Kini aku telah mengampuni dia. Walau berat, aku telah berhasil. Hal ini bukan perkara mudah. Aku rasa tiada manusia satu pun di dunia ini yang sanggup mengampuni orang yang menyakitinya dengan kekuatannya sendiri.
Masalah tidak berhenti hanya sampai disitu.
Ketika aku sudah kembali lagi ke Jerman, kehidupan disini rasanya semakin keras. Studiku semakin sulit. Bukan hanya masalah bahasa, tetapi materi pelajarannya semakin sulit. Itu diakui oleh teman-teman seangkatanku jua. Usahaku harus semakin keras lagi. Tidak hanya soal pelajaran, mengenai pergaulan pun rasanya semuanya semakin sulit. Aku tidak punya teman yang benar-benar teman di lingkungan universitasku, dimana aku bisa berbagi suka dan duka bersamanya. Oleh karena itu aku selalu mengganggu sahabatku Christyne (maafkan aku, tetapi aku hanya bisa melakukan hal itu padamu). Aku selalu meneleponnya ketika aku ingin cerita. Ketika aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi teman-teman di Universitas, aku selalu mencari Christyne.
Keadaan tidak berubah. Selalu seperti itu. Keras. Suatu hari Tuhan membiarkan Christyne pergi dariku. Aku tidak mendengar kabar darinya beberapa hari. Aku sangat sedih waktu itu. Sepertinya semua yang berharga buatku meninggalkan aku. Saat itu aku memberontak kepada Tuhan. Aku merasa semuanya tidak adil. Di saat aku benar-benar butuh pertolongan dan seseorang yang menenangkan aku, bahkan sahabatku pun tidak ada untukku. Aku merasa bodoh dan tidak berarti saat itu. Saat itu merupakan titik terendah di hidupku.
Namun ada sesuatu yang berubah pada akhirnya. Bukan, bukan keadaannya yang berubah. Aku yang berubah. Aku telah melewati salah satu proses pendewasaan dalam hidup. Aku menjadi lebih kuat, dan menjadi sadar bahwa aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada manusia. Manusia, bahkan sahabat terdekatmu atau orang tuamu sekalipun akan mengecewakanmu. Memang begitu. Tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan. Saat itu, saat aku sedang sangat terpuruk, satu-satunya Pribadi yang ada untukku hanya Tuhan Yesus. Cuma Dia. Ya, cuma Dia. tiada yang lain. Ketika semua orang meninggalkanku, Dia tidak. Dia membuatku merasa berarti. Dia membuatku sadar bahwa hanya kepadaNya hidupku boleh dan bisa bergantung.
Sekarang aku mampu tersenyum lagi. Aku berani sendirian ketika aku memang harus sendirian dan tidak ditemani orang lain. Aku mulai bisa menghargai diriku sendiri. Aku sadar bahwa aku lahir di dunia punya tanggung jawab dan punya arti. Tiada manusia yang tidak berarti. Perlahan-lahan serpihan hatiku yang hancur menjadi pulih lagi. Dan sekarang, ketika aku lelah akan keadaan, aku tidak langsung mencari orang lain. Aku mengeluh kepada Tuhan terlebih dahulu ketika aku lelah. Ketika manusia memperlakukanku secara tidak adil, aku tidak lagi mencari orang lain untuk mengeluhkan keadaan kepadanya. Sekarang aku mencari Dia terlebih dahulu untuk mengeluhkan ketidakadilan manusia padaku.
Ternyata memang lebih baik begitu. Aku menjadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi gejolak hidup di hari-hari mendatang.
"Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok punya kesusahannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk sehari." - Matius 6:34
Tuhan memberkati :)
Menyerah atau terus berjuang?
Setiap orang punya masalahnya masing-masing.
Setiap orang punya pilihan untuk memecahkan masalahnya.
Setiap orang punya pilihan untuk tetap berjuang, atau menyerah.
Teman-teman, pernahkah terbersit dalam pikiranmu untuk menyerah ketika ombak masalah menerpamu?
Pernahkah kamu memiliki rasa takut dan khawatir yang begitu besar sampai-sampai hanya air mata dan tangis yang mampu kamu keluarkan?
Pernahkah kamu merasakan tubuhmu begitu berat untuk melangkah ketika bangun di pagi hari karena pikiranmu tertumpu pada masalah yang harus kamu hadapi?
Pernahkah kamu tergoda untuk terburu-buru mengambil keputusan ketika kamu sedang emosi atau sedang bahagia?
Aku berani bertaruh, dari setiap pertanyaan di atas hampir semua dari kalian akan menjawab 'ya'.
Di postinganku kali ini aku nggak ingin berusaha untuk menghibur kalian atau apapun. Aku hanya mau memposting kenyataan yang sedang kuhadapi.
Sejak mulai semester dua di Universitas, aku sangat kewalahan. Masalah bertubi-tubi datang menerpaku.
Minggu lalu kakekku yang dari mama meninggal. Ketika aku mengetahui hal itu, aku tidak langsung menangis. Awalnya pikiranku mulai kacau. Aku terus terang tidak begitu sedih karena opung (kakek) telah tiada, tetapi pikiranku ada pada mama..
Saat itu yang ada di pikiranku adalah... "Tuhan, apa yang akan terjadi pada mama? Bagaimana bila mama tahu bahwa opung telah tiada?"
Ya. Saat itu mama dan papa sedang berlibur ke Israel, dan di sana tidak ada sinyal kecuali pakai sinyal Wi-Fi. Kakakku sudah berusaha menghubungi mama, tetapi tidak ada respon.
Lalu aku tak tahan lagi.
Aku menangis.
Ya, tentu saja kamu boleh bilang aku cengeng. Memang aku cengeng.
Aku menangis, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jantungku berdebar sangat kencang, tetapi tubuhku rasanya lemas sekali. Saat itu hari Senin, aku sedang siap-siap berangkat ke kampus, dan rasanya berat sekali.
Yang lebih berat lagi adalah ketika aku harus tetap tersenyum dan tidak menunjukkan kesedihanku pada siapa-siapa. Selama aku di kampus, pikiranku melayang-layang.
Jam 17.00 pun tiba. Aku baru saja keluar dari kampus. Saat itu rasa sedihku tak bisa kubendung lagi, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah ruangan musik di kampus dan menemukan piano di sana.
Lalu aku langsung saja memainkan piano tersebut, menyalurkan perasaanku yang tidak tersampaikan lewat kata-kata.
Tangisku meledak.
Saat itu aku hanya memohon pada Tuhan agar Dia memberi mamaku kekuatan.
Ya. Setiap orang pernah merasakan bagaimana hancurnya hati ketika rasa duka melanda.
Namun kepada siapakah seharusnya kita memberikan serpihan hati kita?
Kalau aku, aku memilih untuk memberikannya kepada Tuhan. Karena aku percaya, percaya sekali bahwa Ia sanggup membentuk kembali serpihan-serpihan hatiku yang hancur.
Alasannya?
Karena hanya Dia yang mampu. Saat itu hanya Dia yang mendengar tangisku, hanya Dia yang tahu betapa sakitnya hatiku.
Ah. postinganku ini terlalu dramatis dan mengada-ada, bukan?
Tapi, belum selesai disitu.
Aku dilanda masalah lain lagi. Aku mengalami kesulitan yang sangat di kampus. Praktikum yang harus kujalani kini semakin sulit. Aku sangat kesulitan mengikuti tahap-tahapnya.
Banyak orang yang berhenti studi di jurusanku karena tidak sanggup menjalani praktikum ini.
Melihat semuanya ini membuatku merinding.
Bahkan salah seorang teman baikku yang notabene mahasiswi terbaik di jurusanku telah berhenti dari studi ini.
Lalu semakin besarlah rasa takut dan gelisahku. Aku pun sempat berpikir untuk berhenti studi.
Aku sendiri tidak kuat menghadapi praktikum ini.
Logikaku berkata, "yang pintar saja sudah menyerah, kenapa kamu tidak menyerah juga? Kamu kan tidak ada apa-apanya dibanding mereka."
Tetapi hatiku berkata, "Tuhan lebih besar dari masalahmu, lebih besar dari logikamu yang lemah itu. Kalau kamu sendiri paham bahwa kamu tidak pintar, masakan kamu lebih percaya logikamu yang tidak pintar itu dibandingkan kepada Tuhan yang melampaui itu semua?"
Kata orang, badai pasti berlalu.
Ya. Badai pasti berlalu. Perlahan-lahan keadaanku semakin membaik. Tuhan benar-benar telah menyusun serpihan hatiku yang hancur kembali.
Aku menjadi semakin kuat. Dari masalah-masalah yang kuhadapi ini, Dia sengaja membiarkan aku melewatinya sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarku, agar aku tahu, bahwa hanya kepadaNya aku dapat bersandar, hanya Dia yang mengerti aku 100%, hanya Dia yang mengenalku sampai ke lubuk hatiku yang paling dalam.
Masalah boleh datang, akan datang, dan pasti datang.
Pertanyaannya, akankah kamu tetap berjuang atau menyerah?
Sebelum kamu menyerah, maukah kamu mencoba dahulu memberikan hatimu yang terluka kepada Tuhan dan liat perubahan yang akan kamu alami?
Tuhan memberkati :')
Neues Leben. New life. Kehidupan yang baru.
Pernahkah kalian sebagai manusia mengalami rasa takut yang sangat mendalam?
Ketika perasaan itu membuatmu berpikir...
"Ah. Seandainya."
Aku mengalaminya. Perasaan takut, gelisah, kadang juga sedih.
Ternyata... memulai hidup baru itu tidak semudah yang dibayangkan. Dan tentunya, tidak seenak yang dibayangkan juga. Banyak hal yang terjadi di dalam waktu hampir 2 bulan ini. Pertemuan, kesenangan, kesedihan, dan akhirnya... perpisahan.
Jangan tanya padaku mengapa Tuhan izinkan ada perpisahan di dunia ini, karena aku pun membenci perpisahan. Di dalam sebuah perpisahan, terkadang tersimpan penyesalan. Ya. Penyesalan. Penyesalan, mengapa aku tidak menggunakan waktuku lebih banyak bersamanya?
Kata orang... di akhir sebuah perpisahan, seseorang akan dihadiahi sebuah "halo" yang baru. Tapi.... sebuah "halo" yang baru ini pasti tidak akan sama dengan "halo" yang lama, yang kuterima dari orang yang dulu kukenal. Simpel saja, karena setiap orang itu berbeda.
Yang terpenting dari sebuah perpisahan adalah... Dalam semua perpisahan, orang-orang menjadi sadar betapa berharganya waktu. Betapa berharganya kehadiran seseorang di hidup kita. Ketika kita bersama mereka, kita ingin sekali, supaya waktu berjalan cepat. Kita lelah, ingin menyendiri, pokoknya ingin menghabiskan waktu sendiri.
Tapi ketika orang itu pergi....
ada perasaan yang bergejolak di hati. Perasaan kehilangan. Perasaan takut tidak akan berjumpa lagi.
Aku yakin semua orang pernah, dan mungkin akan terus selalu mengalaminya.
Kalau kata ayahku...
Penyesalan selalu datang di akhir.
Ya. itu benar. Jadi.... sebelum menyesal, hendaknya kita mempergunakan waktu dengan baik.
Memang Tuhan tidak pernah menjanjikan matahari bersinar 24 jam. Selalu ada gelap malam. Tapi ya itu.
Semua itu ada waktunya. Ada fajar di pagi hari, ada gelap di malam hari.
Ada waktu berkenalan, ada waktu berpisah......
Seseorang akan menghargai dan memahami apa itu bahagia ketika dia dapat memahami dan menemukan kebahagiaan di saat dia sendiri....
Biarlah sedikit coretanku hari ini menjadi hadiah kecil untuk kalian yang sedang berduka karena perpisahan.
Tetaplah tersenyum. Hidup ini terus berlanjut.
God bless you.
Being remembered
Tuhan itu Maha Tahu. Dia selalu memberikan hal yang kubutuhkan, bukan sekadar yang kumau.
Seringkali aku gak menyadari itu. Betapa seringnya aku mengeluh dan menangis karena tidak mendapat yang kuinginkan. Seperti anak kecil. Manja. Keras kepala. Seringkali tak bersyukur terhadap yang kumiliki, sementara banyak orang diluar sana yang berkekurangan.
Hari ini aku belajar untuk menerima penolakan, menerima ketidakramahan seseorang. Tapi, Tuhan itu Maha Adil. Ketika manusia merasakan sakit, Dia berikan obat untuk sakit itu. Dia tidak biarkan kita terluka lama-lama. Seorang teman telah mengorganisir perayaan ulang tahun kecil-kecilan untukku hari ini, walaupun aku berulang tahun besok, karena besok kami tidak bertemu. Sebuah lilin, satu loyang kue ulang tahun, sebuah lagu ulang tahun, sebuah kado, dan harapan dan doa mereka untukku di hari yang spesial.
Betapa spesial hari ini, dalam waktu 41 menit aku akan berusia 20. Sebagian orang berpikir, bertambah umur berarti semakin dekat dengan kematian. Sedangkan yang lain berpikir, bertambah usia berarti hidup panjang. Menurutku semua benar. Hidup panjang = dekat dengan kematian. Dekat dengan kematian = dekat dengan hari pertemuanku dengan Tuhan di surga dan orang-orang yang kukasihi.
Tetapi rasa takut dan sedih merasuki diriku, menghancurkan hampir seluruh momen-momen berharga di hari ini. Seorang teman tiba-tiba harus pulang di tengah-tengah acara ulang tahun. Membuatku menitikkan air mata kecewa. Kecewa. Kepedihan. Luka hati. Semua bercampur aduk menjadi satu. Ternyata sekuat-kuatnya aku menahan, pada akhirnya aku menangis jua. Menangis di tengah hari yang seharusnya aku berbahagia.
Anggap saja itu tangisan kebahagiaan, walaupun bukan.
Aku bisa mengerti.
Walaupun itu sulit untuk dimengerti.
Terkadang kita manusia merasa sangat sakit dan kecewa meskipun kita tahu si pelaku tidak sengaja atau terpaksa harus melakukan hal itu.
Kadang kita menyimpan luka hati pada hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
Inilah saatnya aku beranjak dewasa.
Bukan anak kecil yang minum susu lagi, tapi orang dewasa yang makan nasi.
Menerima semuanya dengan lapang dada dan mengoreksi diri.
Itu bukan hal yang tidak mungkin.
Setiap orang akan mengalaminya.
Mengalami dimana dia dipaksa oleh hidup ini untuk menjadi dewasa.
Biarlah dirimu dibentuk seperti bejana. Sakit saat dibentuk, tapi akan menghasilkan karya yang indah pada akhirnya.
Die Zeit. Time. Waktu.
"Jadi, 1 hari ada 24 jam, dan dalam 24 jam itu ada 86.400 detik.... Waktu cepat sekali ya berlalu."
"Ya... Apalagi kalau kita sudah berumur."
"Maksudnya? Memang kenapa kalau kita sudah berumur?"
"Ketika kita sudah berumur... maka kita akan bergerak lebih lambat, tidak seperti anak muda yang masih enerjik dan bisa melakukan ini dan itu dengan cepat. Contohnya aku...... aku sudah tua dan gerakku lambat. Di saat seperti inilah aku menyadari bahwa bagiku waktu berjalan sangat cepat. Tentunya lebih cepat dari pada kamu... Aku membutuhkan banyak waktu untuk hal-hal yang sangat mudah dan cepat kamu lakukan. Aku sudah tua..."
Inilah kutipan dari percakapanku dengan Oma Ursula, ketika kami pulang dari bioskop hari ini. Dari percakapan ini aku belajar bahwa.... Waktu itu sangat berharga, guys. Dan apa yang Oma Ursula bilang itu memang kenyataan. Aku gak kebayang... ketika aku beranjak semakin tua... Dan gerakku melambat... Penglihatanku mulai berkurang.... Aku mudah lelah dan harus banyak istirahat... Aku tidak bisa lagi melakukan apa hal-hal yang bisa dilakukan manusia seusiaku lagi.... Betapa berharganya waktu. Betapa Setiap kaum lansia berandai-andai, kalau saja mereka dapat memutar waktu.... Betapa berharga setiap detik yang kita miliki.
Dalam waktu 1 detik, kita bisa mengecup pipi orang lain... Dalam waktu 1,5 detik kita bisa mengucapkan "Aku mencintaimu"... Dalam waktu 1 detik juga kita dapat menusuk orang lain dengan pisau. Dalam waktu 1 1,5 detik kita bisa mengucapkan, "Aku benci kamu". Betapa ajaib dan berharganya waktu itu...
Betapa setiap insan terkadang tidak menyadari bahwa tiada yang mampu memutar waktu, bahkan orang-orang yang tergolong suci, yang kita elu-elukan, mereka tidak dapat memutar waktu.
Ya Tuhan.
Kalau begitu... akankah waktuku sia-sia untuk menanti sang kekasih yang akan Engkau kirimkan kepadaku?
Akankah waktu 86.400 detik setiap harinya tidak akan terbuang sia-sia untuk menantinya?
Pada detik keberapakah aku akan bertemu dengannya?
Akankah aku bertemu dengannya?
Bila ya......
Aku ingin sekali bilang padanya, "Aku punya 86.400 detik setiap hari.... Dan di setiap detiknya, aku selalu panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar aku suatu saat nanti bisa bertemu denganmu..... "
Aku percaya, tiada yang sia-sia, ketika kita melakukan sesuatu dengan setulus hati. Dengan kasih.
Kasih itu.... sabar... kasih itu murah hati.. ia tidak cemburu... tidak memegahkan diri dan tidak sombong.... Ia tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Tidak ada kata terlambat selagi kita masih hidup....
Hadiah terindah yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah waktu kita, karena waktu tidak bisa dibeli dengan apapun....
Aku mau belajar untuk memberikan waktuku lebih kepada orang lain. Mendengarkan cerita mereka...
Aku tau itu sulit, tapi itu mungkin.
Good night, guys. Have a nice dream.
God bless you! :)
Hi guys. Pernah gak sih kalian mikir, bahwa hal yang awalnya kalian pikir lucu dan kalian suka itu, karena itu bikin kalian seneng, ternyata bukan hal baik yang kita semestinya gak lakukan? Yap. Itu yang lagi kualamin sekarang guys.
So, tadi pagi aku lagi Facebook-an dan tiba-tiba menemukan posting video dari salah seorang teman. Ini linknya : http://youtu.be/RvCT9PP0398 . Jadi video itu emang lucu sih, dia ngebahas tentang The Worst Selfies Ever. Awal2nya aku ketawa ngakak guys karna liat video itu. Tapi kok lama kelamaan aku ngerasa ada yang janggal sama apa yang aku tertawakan. Terutama setelah aku ngeliat video-video lain dari user ini.
Ternyata user ini bikin video-video emang khusus untuk ngomentarin orang lain tentang kekurangan mereka.
Ok guys, let us be honest. Sebenarnya aku seneng ngeliat video-video gitu, ngomentarin orang-orang yang aneh dan sok keren. Tapi aku sendiri ngerasa bersalah abis nonton video2 user ini. Joke-nya sangat menyakitkan hati dan sarkasme banget. Mungkin buat kebanyakan orang ini hal yang lucu dan oknum2 yang diejekin di video ini dianggap pantas menerima ejekan seperti itu. Tapi menurutku nggak guys. Gak ada orang yang pantas menerima ejekan2 seperti itu. Gak ada orang yang suka diejek. Aku gak mau munafik, guys. Aku juga sering ngejekin orang. Tapi ketika aku diejek, di hati yang paling dalem aku ga bisa bohong bahwa aku terluka guys.
Jadi dari video-video ini aku belajar banyak guys. Belajar untuk gak menghina orang, se menyebalkan apapun mereka. Itu hak mereka untuk hidup, gimana mereka ngejalaninnya, kita ga punya hak untuk mengejek itu.
Sorry kalo ada kata-kata gak berkenan.
Aku cuma lagi pengen menyatakan pendapat.
Good night, buddies.
Ciaowie! :3
Rindu
Dear night,
I don't know what's in my heart. This kind of feeling...
It's aching
It's so deep
It brings me to tears
Knowing that I'm probably not going to see them again
Everytime I open my eyes when I wake up
Looking at the window
Seeing how the trees dance
How amazing the sun shines
How beautiful the birds sing
And everything goes wrong all of the sudden
When I remember about you
How you come so deeply into my heart
How I cherish our time together in the past
Hearing the raindrops out there
Realizing our times are not going back
Looking around my room
Remembering how you did laugh
How you did teach me
How you did motivate me
How you did smile at me
How you did grab my hands and even hold me
Those moments
Even money can't buy
Even words can't describe
Even the sky is cloudy not knowing how to react
Even songs are out of words
How I miss you so much
Knowing that those times are not coming back
Is worse than anything I've ever imagined
Knowing that somebody else is seeing your smile
While I am not
Hurts so bad I couldn't explain
I have let you go
I have accepted the reality that we can't always be together
Now fly away
Thank you for brigthening my way to the future
Thank you for being someone I can love when I didn't have one
Thank you for struggling together
Thank you for being my motivator
Thank you for being my teacher.
Dear night, please tell them I love them
Even when they don't see.....
Good night everyone :')
LEER MÁS...
