Freitag, 1. Mai 2015
Menyerah atau terus berjuang?
Setiap orang punya pilihan untuk memecahkan masalahnya.
Setiap orang punya pilihan untuk tetap berjuang, atau menyerah.
Teman-teman, pernahkah terbersit dalam pikiranmu untuk menyerah ketika ombak masalah menerpamu?
Pernahkah kamu memiliki rasa takut dan khawatir yang begitu besar sampai-sampai hanya air mata dan tangis yang mampu kamu keluarkan?
Pernahkah kamu merasakan tubuhmu begitu berat untuk melangkah ketika bangun di pagi hari karena pikiranmu tertumpu pada masalah yang harus kamu hadapi?
Pernahkah kamu tergoda untuk terburu-buru mengambil keputusan ketika kamu sedang emosi atau sedang bahagia?
Aku berani bertaruh, dari setiap pertanyaan di atas hampir semua dari kalian akan menjawab 'ya'.
Di postinganku kali ini aku nggak ingin berusaha untuk menghibur kalian atau apapun. Aku hanya mau memposting kenyataan yang sedang kuhadapi.
Sejak mulai semester dua di Universitas, aku sangat kewalahan. Masalah bertubi-tubi datang menerpaku.
Minggu lalu kakekku yang dari mama meninggal. Ketika aku mengetahui hal itu, aku tidak langsung menangis. Awalnya pikiranku mulai kacau. Aku terus terang tidak begitu sedih karena opung (kakek) telah tiada, tetapi pikiranku ada pada mama..
Saat itu yang ada di pikiranku adalah... "Tuhan, apa yang akan terjadi pada mama? Bagaimana bila mama tahu bahwa opung telah tiada?"
Ya. Saat itu mama dan papa sedang berlibur ke Israel, dan di sana tidak ada sinyal kecuali pakai sinyal Wi-Fi. Kakakku sudah berusaha menghubungi mama, tetapi tidak ada respon.
Lalu aku tak tahan lagi.
Aku menangis.
Ya, tentu saja kamu boleh bilang aku cengeng. Memang aku cengeng.
Aku menangis, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jantungku berdebar sangat kencang, tetapi tubuhku rasanya lemas sekali. Saat itu hari Senin, aku sedang siap-siap berangkat ke kampus, dan rasanya berat sekali.
Yang lebih berat lagi adalah ketika aku harus tetap tersenyum dan tidak menunjukkan kesedihanku pada siapa-siapa. Selama aku di kampus, pikiranku melayang-layang.
Jam 17.00 pun tiba. Aku baru saja keluar dari kampus. Saat itu rasa sedihku tak bisa kubendung lagi, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah ruangan musik di kampus dan menemukan piano di sana.
Lalu aku langsung saja memainkan piano tersebut, menyalurkan perasaanku yang tidak tersampaikan lewat kata-kata.
Tangisku meledak.
Saat itu aku hanya memohon pada Tuhan agar Dia memberi mamaku kekuatan.
Ya. Setiap orang pernah merasakan bagaimana hancurnya hati ketika rasa duka melanda.
Namun kepada siapakah seharusnya kita memberikan serpihan hati kita?
Kalau aku, aku memilih untuk memberikannya kepada Tuhan. Karena aku percaya, percaya sekali bahwa Ia sanggup membentuk kembali serpihan-serpihan hatiku yang hancur.
Alasannya?
Karena hanya Dia yang mampu. Saat itu hanya Dia yang mendengar tangisku, hanya Dia yang tahu betapa sakitnya hatiku.
Ah. postinganku ini terlalu dramatis dan mengada-ada, bukan?
Tapi, belum selesai disitu.
Aku dilanda masalah lain lagi. Aku mengalami kesulitan yang sangat di kampus. Praktikum yang harus kujalani kini semakin sulit. Aku sangat kesulitan mengikuti tahap-tahapnya.
Banyak orang yang berhenti studi di jurusanku karena tidak sanggup menjalani praktikum ini.
Melihat semuanya ini membuatku merinding.
Bahkan salah seorang teman baikku yang notabene mahasiswi terbaik di jurusanku telah berhenti dari studi ini.
Lalu semakin besarlah rasa takut dan gelisahku. Aku pun sempat berpikir untuk berhenti studi.
Aku sendiri tidak kuat menghadapi praktikum ini.
Logikaku berkata, "yang pintar saja sudah menyerah, kenapa kamu tidak menyerah juga? Kamu kan tidak ada apa-apanya dibanding mereka."
Tetapi hatiku berkata, "Tuhan lebih besar dari masalahmu, lebih besar dari logikamu yang lemah itu. Kalau kamu sendiri paham bahwa kamu tidak pintar, masakan kamu lebih percaya logikamu yang tidak pintar itu dibandingkan kepada Tuhan yang melampaui itu semua?"
Kata orang, badai pasti berlalu.
Ya. Badai pasti berlalu. Perlahan-lahan keadaanku semakin membaik. Tuhan benar-benar telah menyusun serpihan hatiku yang hancur kembali.
Aku menjadi semakin kuat. Dari masalah-masalah yang kuhadapi ini, Dia sengaja membiarkan aku melewatinya sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarku, agar aku tahu, bahwa hanya kepadaNya aku dapat bersandar, hanya Dia yang mengerti aku 100%, hanya Dia yang mengenalku sampai ke lubuk hatiku yang paling dalam.
Masalah boleh datang, akan datang, dan pasti datang.
Pertanyaannya, akankah kamu tetap berjuang atau menyerah?
Sebelum kamu menyerah, maukah kamu mencoba dahulu memberikan hatimu yang terluka kepada Tuhan dan liat perubahan yang akan kamu alami?
Tuhan memberkati :')
| [+/-] |
Menyerah atau terus berjuang? |
Setiap orang punya masalahnya masing-masing.
Setiap orang punya pilihan untuk memecahkan masalahnya.
Setiap orang punya pilihan untuk tetap berjuang, atau menyerah.
Teman-teman, pernahkah terbersit dalam pikiranmu untuk menyerah ketika ombak masalah menerpamu?
Pernahkah kamu memiliki rasa takut dan khawatir yang begitu besar sampai-sampai hanya air mata dan tangis yang mampu kamu keluarkan?
Pernahkah kamu merasakan tubuhmu begitu berat untuk melangkah ketika bangun di pagi hari karena pikiranmu tertumpu pada masalah yang harus kamu hadapi?
Pernahkah kamu tergoda untuk terburu-buru mengambil keputusan ketika kamu sedang emosi atau sedang bahagia?
Aku berani bertaruh, dari setiap pertanyaan di atas hampir semua dari kalian akan menjawab 'ya'.
Di postinganku kali ini aku nggak ingin berusaha untuk menghibur kalian atau apapun. Aku hanya mau memposting kenyataan yang sedang kuhadapi.
Sejak mulai semester dua di Universitas, aku sangat kewalahan. Masalah bertubi-tubi datang menerpaku.
Minggu lalu kakekku yang dari mama meninggal. Ketika aku mengetahui hal itu, aku tidak langsung menangis. Awalnya pikiranku mulai kacau. Aku terus terang tidak begitu sedih karena opung (kakek) telah tiada, tetapi pikiranku ada pada mama..
Saat itu yang ada di pikiranku adalah... "Tuhan, apa yang akan terjadi pada mama? Bagaimana bila mama tahu bahwa opung telah tiada?"
Ya. Saat itu mama dan papa sedang berlibur ke Israel, dan di sana tidak ada sinyal kecuali pakai sinyal Wi-Fi. Kakakku sudah berusaha menghubungi mama, tetapi tidak ada respon.
Lalu aku tak tahan lagi.
Aku menangis.
Ya, tentu saja kamu boleh bilang aku cengeng. Memang aku cengeng.
Aku menangis, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jantungku berdebar sangat kencang, tetapi tubuhku rasanya lemas sekali. Saat itu hari Senin, aku sedang siap-siap berangkat ke kampus, dan rasanya berat sekali.
Yang lebih berat lagi adalah ketika aku harus tetap tersenyum dan tidak menunjukkan kesedihanku pada siapa-siapa. Selama aku di kampus, pikiranku melayang-layang.
Jam 17.00 pun tiba. Aku baru saja keluar dari kampus. Saat itu rasa sedihku tak bisa kubendung lagi, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah ruangan musik di kampus dan menemukan piano di sana.
Lalu aku langsung saja memainkan piano tersebut, menyalurkan perasaanku yang tidak tersampaikan lewat kata-kata.
Tangisku meledak.
Saat itu aku hanya memohon pada Tuhan agar Dia memberi mamaku kekuatan.
Ya. Setiap orang pernah merasakan bagaimana hancurnya hati ketika rasa duka melanda.
Namun kepada siapakah seharusnya kita memberikan serpihan hati kita?
Kalau aku, aku memilih untuk memberikannya kepada Tuhan. Karena aku percaya, percaya sekali bahwa Ia sanggup membentuk kembali serpihan-serpihan hatiku yang hancur.
Alasannya?
Karena hanya Dia yang mampu. Saat itu hanya Dia yang mendengar tangisku, hanya Dia yang tahu betapa sakitnya hatiku.
Ah. postinganku ini terlalu dramatis dan mengada-ada, bukan?
Tapi, belum selesai disitu.
Aku dilanda masalah lain lagi. Aku mengalami kesulitan yang sangat di kampus. Praktikum yang harus kujalani kini semakin sulit. Aku sangat kesulitan mengikuti tahap-tahapnya.
Banyak orang yang berhenti studi di jurusanku karena tidak sanggup menjalani praktikum ini.
Melihat semuanya ini membuatku merinding.
Bahkan salah seorang teman baikku yang notabene mahasiswi terbaik di jurusanku telah berhenti dari studi ini.
Lalu semakin besarlah rasa takut dan gelisahku. Aku pun sempat berpikir untuk berhenti studi.
Aku sendiri tidak kuat menghadapi praktikum ini.
Logikaku berkata, "yang pintar saja sudah menyerah, kenapa kamu tidak menyerah juga? Kamu kan tidak ada apa-apanya dibanding mereka."
Tetapi hatiku berkata, "Tuhan lebih besar dari masalahmu, lebih besar dari logikamu yang lemah itu. Kalau kamu sendiri paham bahwa kamu tidak pintar, masakan kamu lebih percaya logikamu yang tidak pintar itu dibandingkan kepada Tuhan yang melampaui itu semua?"
Kata orang, badai pasti berlalu.
Ya. Badai pasti berlalu. Perlahan-lahan keadaanku semakin membaik. Tuhan benar-benar telah menyusun serpihan hatiku yang hancur kembali.
Aku menjadi semakin kuat. Dari masalah-masalah yang kuhadapi ini, Dia sengaja membiarkan aku melewatinya sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarku, agar aku tahu, bahwa hanya kepadaNya aku dapat bersandar, hanya Dia yang mengerti aku 100%, hanya Dia yang mengenalku sampai ke lubuk hatiku yang paling dalam.
Masalah boleh datang, akan datang, dan pasti datang.
Pertanyaannya, akankah kamu tetap berjuang atau menyerah?
Sebelum kamu menyerah, maukah kamu mencoba dahulu memberikan hatimu yang terluka kepada Tuhan dan liat perubahan yang akan kamu alami?
Tuhan memberkati :')

