Montag, 11. Januar 2016
Stronger than yesterday
Langsung saja, ya....
Dalam waktu 8 bulan ini banyak sekali yang terjadi di hidupku. Dari mulai sedih, senang, kecewa, marah, terkejut, patah hati, dan rasa rindu. Kadang ketika aku sedang berbaring di tempat tidur dan menunggu untuk terlelap, semua momen-momen itu muncul di kepalaku. Begitu saja. Tanpa alasan. Banyak hal yang telah kucapai. Bukan, bukan prestasi akademik yang kucapai sayangnya, melainkan hal-hal yang membuat aku menjadi lebih kuat.
Bulan Agustus-Semptember 2015 aku untuk pertama kalinya pulang ke Indonesia setelah hampir 3 tahun aku tinggal di Jerman untuk mengejar mimpiku. Banyak sekali hal yang berubah disana. Beberapa hal hampir tidak kukenali lagi. Dari mulai tiket kendaraan umum dan harga makanan yang melonjak dua kali lipat sampai letak mebel di rumahku yang sangat berbeda dari sebelum aku pergi ke Jerman. Banyak sekali perubahan. Ya, keadaan di Indonesia berubah. Begitu pun manusia-manusianya. Ketika aku disana, banyak hal-hal yang terjadi yang merupakan bekal untukku untuk menjadi lebih kuat ketika kembali ke medan perang di Jerman. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan rasa kecewa yang tak terlukiskan ketika aku berlibur ke tanah air. Saking kecewanya, aku tidak punya hasrat untuk apapun. Hatiku gelisah dan gundah gulana. Air mata terus mengalir dari pelupuk mata. Rasa kecewa seperti itu belum pernah kualami sebelumnya. Rasa kecewa seperti itu kukira hanya ada di film-film. Ternyata kekecewaan sebesar itu bisa dialami seorang manusia. Manusia yang rapuh dan kadang terlalu bodoh karena menggantungkan kepercayaan dan hidupnya kepada manusia lain, di saat ia tahu bahwa ada Pribadi lain yang bisa membentuk serpihan-serpihan hati yang hancur menjadi utuh kembali.
Saat itu aku sampai bilang terhadap diriku sendiri, bahwa kalau masalah itu tidak selesai, aku tidak akan mau kembali lagi ke Jerman. Ya, manusia bisa sangat kecewa dan sedih sampai-sampai ia kehilangan akal sehatnya dan kehilangan harapan hidup. Aku bersyukur, karena saat itu Pribadi yang luar biasa itu datang kepadaku lewat Alkitab yang keluarga kami selalu baca setiap pagi. Ya, firmanNya saat itu adalah untuk mengampuni. Mengampuni orang yang menyakiti kita, karena Pribadi itu telah mengampuni kita terlebih dahulu. Kini aku telah mengampuni dia. Walau berat, aku telah berhasil. Hal ini bukan perkara mudah. Aku rasa tiada manusia satu pun di dunia ini yang sanggup mengampuni orang yang menyakitinya dengan kekuatannya sendiri.
Masalah tidak berhenti hanya sampai disitu.
Ketika aku sudah kembali lagi ke Jerman, kehidupan disini rasanya semakin keras. Studiku semakin sulit. Bukan hanya masalah bahasa, tetapi materi pelajarannya semakin sulit. Itu diakui oleh teman-teman seangkatanku jua. Usahaku harus semakin keras lagi. Tidak hanya soal pelajaran, mengenai pergaulan pun rasanya semuanya semakin sulit. Aku tidak punya teman yang benar-benar teman di lingkungan universitasku, dimana aku bisa berbagi suka dan duka bersamanya. Oleh karena itu aku selalu mengganggu sahabatku Christyne (maafkan aku, tetapi aku hanya bisa melakukan hal itu padamu). Aku selalu meneleponnya ketika aku ingin cerita. Ketika aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi teman-teman di Universitas, aku selalu mencari Christyne.
Keadaan tidak berubah. Selalu seperti itu. Keras. Suatu hari Tuhan membiarkan Christyne pergi dariku. Aku tidak mendengar kabar darinya beberapa hari. Aku sangat sedih waktu itu. Sepertinya semua yang berharga buatku meninggalkan aku. Saat itu aku memberontak kepada Tuhan. Aku merasa semuanya tidak adil. Di saat aku benar-benar butuh pertolongan dan seseorang yang menenangkan aku, bahkan sahabatku pun tidak ada untukku. Aku merasa bodoh dan tidak berarti saat itu. Saat itu merupakan titik terendah di hidupku.
Namun ada sesuatu yang berubah pada akhirnya. Bukan, bukan keadaannya yang berubah. Aku yang berubah. Aku telah melewati salah satu proses pendewasaan dalam hidup. Aku menjadi lebih kuat, dan menjadi sadar bahwa aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada manusia. Manusia, bahkan sahabat terdekatmu atau orang tuamu sekalipun akan mengecewakanmu. Memang begitu. Tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan. Saat itu, saat aku sedang sangat terpuruk, satu-satunya Pribadi yang ada untukku hanya Tuhan Yesus. Cuma Dia. Ya, cuma Dia. tiada yang lain. Ketika semua orang meninggalkanku, Dia tidak. Dia membuatku merasa berarti. Dia membuatku sadar bahwa hanya kepadaNya hidupku boleh dan bisa bergantung.
Sekarang aku mampu tersenyum lagi. Aku berani sendirian ketika aku memang harus sendirian dan tidak ditemani orang lain. Aku mulai bisa menghargai diriku sendiri. Aku sadar bahwa aku lahir di dunia punya tanggung jawab dan punya arti. Tiada manusia yang tidak berarti. Perlahan-lahan serpihan hatiku yang hancur menjadi pulih lagi. Dan sekarang, ketika aku lelah akan keadaan, aku tidak langsung mencari orang lain. Aku mengeluh kepada Tuhan terlebih dahulu ketika aku lelah. Ketika manusia memperlakukanku secara tidak adil, aku tidak lagi mencari orang lain untuk mengeluhkan keadaan kepadanya. Sekarang aku mencari Dia terlebih dahulu untuk mengeluhkan ketidakadilan manusia padaku.
Ternyata memang lebih baik begitu. Aku menjadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi gejolak hidup di hari-hari mendatang.
"Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok punya kesusahannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk sehari." - Matius 6:34
Tuhan memberkati :)
Stronger than yesterday
Hallo semuanya :) Udah lama ya aku gak nulis di blog ini... Udah 8 bulan. Hehe... Bagaimana kabar kalian semua? Aku harap baik-baik saja ya.
Langsung saja, ya....
Dalam waktu 8 bulan ini banyak sekali yang terjadi di hidupku. Dari mulai sedih, senang, kecewa, marah, terkejut, patah hati, dan rasa rindu. Kadang ketika aku sedang berbaring di tempat tidur dan menunggu untuk terlelap, semua momen-momen itu muncul di kepalaku. Begitu saja. Tanpa alasan. Banyak hal yang telah kucapai. Bukan, bukan prestasi akademik yang kucapai sayangnya, melainkan hal-hal yang membuat aku menjadi lebih kuat.
Bulan Agustus-Semptember 2015 aku untuk pertama kalinya pulang ke Indonesia setelah hampir 3 tahun aku tinggal di Jerman untuk mengejar mimpiku. Banyak sekali hal yang berubah disana. Beberapa hal hampir tidak kukenali lagi. Dari mulai tiket kendaraan umum dan harga makanan yang melonjak dua kali lipat sampai letak mebel di rumahku yang sangat berbeda dari sebelum aku pergi ke Jerman. Banyak sekali perubahan. Ya, keadaan di Indonesia berubah. Begitu pun manusia-manusianya. Ketika aku disana, banyak hal-hal yang terjadi yang merupakan bekal untukku untuk menjadi lebih kuat ketika kembali ke medan perang di Jerman. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan rasa kecewa yang tak terlukiskan ketika aku berlibur ke tanah air. Saking kecewanya, aku tidak punya hasrat untuk apapun. Hatiku gelisah dan gundah gulana. Air mata terus mengalir dari pelupuk mata. Rasa kecewa seperti itu belum pernah kualami sebelumnya. Rasa kecewa seperti itu kukira hanya ada di film-film. Ternyata kekecewaan sebesar itu bisa dialami seorang manusia. Manusia yang rapuh dan kadang terlalu bodoh karena menggantungkan kepercayaan dan hidupnya kepada manusia lain, di saat ia tahu bahwa ada Pribadi lain yang bisa membentuk serpihan-serpihan hati yang hancur menjadi utuh kembali.
Saat itu aku sampai bilang terhadap diriku sendiri, bahwa kalau masalah itu tidak selesai, aku tidak akan mau kembali lagi ke Jerman. Ya, manusia bisa sangat kecewa dan sedih sampai-sampai ia kehilangan akal sehatnya dan kehilangan harapan hidup. Aku bersyukur, karena saat itu Pribadi yang luar biasa itu datang kepadaku lewat Alkitab yang keluarga kami selalu baca setiap pagi. Ya, firmanNya saat itu adalah untuk mengampuni. Mengampuni orang yang menyakiti kita, karena Pribadi itu telah mengampuni kita terlebih dahulu. Kini aku telah mengampuni dia. Walau berat, aku telah berhasil. Hal ini bukan perkara mudah. Aku rasa tiada manusia satu pun di dunia ini yang sanggup mengampuni orang yang menyakitinya dengan kekuatannya sendiri.
Masalah tidak berhenti hanya sampai disitu.
Ketika aku sudah kembali lagi ke Jerman, kehidupan disini rasanya semakin keras. Studiku semakin sulit. Bukan hanya masalah bahasa, tetapi materi pelajarannya semakin sulit. Itu diakui oleh teman-teman seangkatanku jua. Usahaku harus semakin keras lagi. Tidak hanya soal pelajaran, mengenai pergaulan pun rasanya semuanya semakin sulit. Aku tidak punya teman yang benar-benar teman di lingkungan universitasku, dimana aku bisa berbagi suka dan duka bersamanya. Oleh karena itu aku selalu mengganggu sahabatku Christyne (maafkan aku, tetapi aku hanya bisa melakukan hal itu padamu). Aku selalu meneleponnya ketika aku ingin cerita. Ketika aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi teman-teman di Universitas, aku selalu mencari Christyne.
Keadaan tidak berubah. Selalu seperti itu. Keras. Suatu hari Tuhan membiarkan Christyne pergi dariku. Aku tidak mendengar kabar darinya beberapa hari. Aku sangat sedih waktu itu. Sepertinya semua yang berharga buatku meninggalkan aku. Saat itu aku memberontak kepada Tuhan. Aku merasa semuanya tidak adil. Di saat aku benar-benar butuh pertolongan dan seseorang yang menenangkan aku, bahkan sahabatku pun tidak ada untukku. Aku merasa bodoh dan tidak berarti saat itu. Saat itu merupakan titik terendah di hidupku.
Namun ada sesuatu yang berubah pada akhirnya. Bukan, bukan keadaannya yang berubah. Aku yang berubah. Aku telah melewati salah satu proses pendewasaan dalam hidup. Aku menjadi lebih kuat, dan menjadi sadar bahwa aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada manusia. Manusia, bahkan sahabat terdekatmu atau orang tuamu sekalipun akan mengecewakanmu. Memang begitu. Tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan. Saat itu, saat aku sedang sangat terpuruk, satu-satunya Pribadi yang ada untukku hanya Tuhan Yesus. Cuma Dia. Ya, cuma Dia. tiada yang lain. Ketika semua orang meninggalkanku, Dia tidak. Dia membuatku merasa berarti. Dia membuatku sadar bahwa hanya kepadaNya hidupku boleh dan bisa bergantung.
Sekarang aku mampu tersenyum lagi. Aku berani sendirian ketika aku memang harus sendirian dan tidak ditemani orang lain. Aku mulai bisa menghargai diriku sendiri. Aku sadar bahwa aku lahir di dunia punya tanggung jawab dan punya arti. Tiada manusia yang tidak berarti. Perlahan-lahan serpihan hatiku yang hancur menjadi pulih lagi. Dan sekarang, ketika aku lelah akan keadaan, aku tidak langsung mencari orang lain. Aku mengeluh kepada Tuhan terlebih dahulu ketika aku lelah. Ketika manusia memperlakukanku secara tidak adil, aku tidak lagi mencari orang lain untuk mengeluhkan keadaan kepadanya. Sekarang aku mencari Dia terlebih dahulu untuk mengeluhkan ketidakadilan manusia padaku.
Ternyata memang lebih baik begitu. Aku menjadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi gejolak hidup di hari-hari mendatang.
"Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok punya kesusahannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk sehari." - Matius 6:34
Tuhan memberkati :)
1 Kommentare:
- Christyne hat gesagt…
-
Yup! Tuhan tidak pernah mengecewakan (y)
-
14. Januar 2016 um 12:41

1 Kommentare:
Yup! Tuhan tidak pernah mengecewakan (y)
Kommentar veröffentlichen