Mittwoch, 20. August 2014
Being remembered
Seringkali aku gak menyadari itu. Betapa seringnya aku mengeluh dan menangis karena tidak mendapat yang kuinginkan. Seperti anak kecil. Manja. Keras kepala. Seringkali tak bersyukur terhadap yang kumiliki, sementara banyak orang diluar sana yang berkekurangan.
Hari ini aku belajar untuk menerima penolakan, menerima ketidakramahan seseorang. Tapi, Tuhan itu Maha Adil. Ketika manusia merasakan sakit, Dia berikan obat untuk sakit itu. Dia tidak biarkan kita terluka lama-lama. Seorang teman telah mengorganisir perayaan ulang tahun kecil-kecilan untukku hari ini, walaupun aku berulang tahun besok, karena besok kami tidak bertemu. Sebuah lilin, satu loyang kue ulang tahun, sebuah lagu ulang tahun, sebuah kado, dan harapan dan doa mereka untukku di hari yang spesial.
Betapa spesial hari ini, dalam waktu 41 menit aku akan berusia 20. Sebagian orang berpikir, bertambah umur berarti semakin dekat dengan kematian. Sedangkan yang lain berpikir, bertambah usia berarti hidup panjang. Menurutku semua benar. Hidup panjang = dekat dengan kematian. Dekat dengan kematian = dekat dengan hari pertemuanku dengan Tuhan di surga dan orang-orang yang kukasihi.
Tetapi rasa takut dan sedih merasuki diriku, menghancurkan hampir seluruh momen-momen berharga di hari ini. Seorang teman tiba-tiba harus pulang di tengah-tengah acara ulang tahun. Membuatku menitikkan air mata kecewa. Kecewa. Kepedihan. Luka hati. Semua bercampur aduk menjadi satu. Ternyata sekuat-kuatnya aku menahan, pada akhirnya aku menangis jua. Menangis di tengah hari yang seharusnya aku berbahagia.
Anggap saja itu tangisan kebahagiaan, walaupun bukan.
Aku bisa mengerti.
Walaupun itu sulit untuk dimengerti.
Terkadang kita manusia merasa sangat sakit dan kecewa meskipun kita tahu si pelaku tidak sengaja atau terpaksa harus melakukan hal itu.
Kadang kita menyimpan luka hati pada hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
Inilah saatnya aku beranjak dewasa.
Bukan anak kecil yang minum susu lagi, tapi orang dewasa yang makan nasi.
Menerima semuanya dengan lapang dada dan mengoreksi diri.
Itu bukan hal yang tidak mungkin.
Setiap orang akan mengalaminya.
Mengalami dimana dia dipaksa oleh hidup ini untuk menjadi dewasa.
Biarlah dirimu dibentuk seperti bejana. Sakit saat dibentuk, tapi akan menghasilkan karya yang indah pada akhirnya.
Being remembered
Tuhan itu Maha Tahu. Dia selalu memberikan hal yang kubutuhkan, bukan sekadar yang kumau.
Seringkali aku gak menyadari itu. Betapa seringnya aku mengeluh dan menangis karena tidak mendapat yang kuinginkan. Seperti anak kecil. Manja. Keras kepala. Seringkali tak bersyukur terhadap yang kumiliki, sementara banyak orang diluar sana yang berkekurangan.
Hari ini aku belajar untuk menerima penolakan, menerima ketidakramahan seseorang. Tapi, Tuhan itu Maha Adil. Ketika manusia merasakan sakit, Dia berikan obat untuk sakit itu. Dia tidak biarkan kita terluka lama-lama. Seorang teman telah mengorganisir perayaan ulang tahun kecil-kecilan untukku hari ini, walaupun aku berulang tahun besok, karena besok kami tidak bertemu. Sebuah lilin, satu loyang kue ulang tahun, sebuah lagu ulang tahun, sebuah kado, dan harapan dan doa mereka untukku di hari yang spesial.
Betapa spesial hari ini, dalam waktu 41 menit aku akan berusia 20. Sebagian orang berpikir, bertambah umur berarti semakin dekat dengan kematian. Sedangkan yang lain berpikir, bertambah usia berarti hidup panjang. Menurutku semua benar. Hidup panjang = dekat dengan kematian. Dekat dengan kematian = dekat dengan hari pertemuanku dengan Tuhan di surga dan orang-orang yang kukasihi.
Tetapi rasa takut dan sedih merasuki diriku, menghancurkan hampir seluruh momen-momen berharga di hari ini. Seorang teman tiba-tiba harus pulang di tengah-tengah acara ulang tahun. Membuatku menitikkan air mata kecewa. Kecewa. Kepedihan. Luka hati. Semua bercampur aduk menjadi satu. Ternyata sekuat-kuatnya aku menahan, pada akhirnya aku menangis jua. Menangis di tengah hari yang seharusnya aku berbahagia.
Anggap saja itu tangisan kebahagiaan, walaupun bukan.
Aku bisa mengerti.
Walaupun itu sulit untuk dimengerti.
Terkadang kita manusia merasa sangat sakit dan kecewa meskipun kita tahu si pelaku tidak sengaja atau terpaksa harus melakukan hal itu.
Kadang kita menyimpan luka hati pada hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
Inilah saatnya aku beranjak dewasa.
Bukan anak kecil yang minum susu lagi, tapi orang dewasa yang makan nasi.
Menerima semuanya dengan lapang dada dan mengoreksi diri.
Itu bukan hal yang tidak mungkin.
Setiap orang akan mengalaminya.
Mengalami dimana dia dipaksa oleh hidup ini untuk menjadi dewasa.
Biarlah dirimu dibentuk seperti bejana. Sakit saat dibentuk, tapi akan menghasilkan karya yang indah pada akhirnya.


0 Kommentare:
Kommentar veröffentlichen